Untuk mendukung keberhasilan budidaya bawang putih terdapat 4 faktor utama yang harus diperhatikan, yaitu :

  1. Kualitas benih bawang putih yang digunakan

Adapun ciri-ciri benih bawang putih yang berkualitas adalah :

  • Ketuaan umur benih
  • Ukuran benih
  • Keseragaman benih

 

  1. Jarak tanam

Penentuan jarak tanam pada budidaya bawang putih ditentukan berdasarkan tujuan penanaman apakah itu untuk produksi konsumsi atau untuk produksi benih. Jika bawang putih ditanam untuk tujuan produksi benih sebaiknya ditanam dengan jarak lebih renggang sekitar 15×15 cm sedangkan untuk tujuan konsumsi benih ditanam dengan jarak yang lebih rapat sehingga biasanya akan menghasilkan produksi umbi yang lebih banyak hanya saja dengan ukuran yang lebih kecil.

 

  1. Pemupukan berimbang

Mengingat bawang putih adalah salah satu produk pertanian yang diambil dari sisi bobot, aroma dan juga warna oleh karenanya pemupukan bawang putih harus dilengkapi dari sisi unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K) dan Belerang (S).

Untuk pertumbuhan yang optimal pada penanaman bawang putih dosis pupuk yang diperlukan adalah :

Nitrogen (N) 200 kg/ha

P2O5 150-200 kg/ha

K2O 80 kg/ha

Belerang (S) 100 kg/ha

Pupuk belerang (sulfur) sangat menentukan mutu bawang putih, karena pupuk belerang terhadap kualitas aroma maupun warna bawang putih sangat berperan.

 

  1. Pengendalian hama dan penyakit secara tepat dan terpadu

Pengendalian hama penyakit sebaiknya dilakukan dengan metode ramah lingkungan yaitu dilakukan dengan cara mengkombinasikan penggunaan pestisida kimia dengan cara mengurangi dan mengkombinasikan penggunaannya dengan pestisida hayati.

Pengendalian hama penyakit secara ramah lingkungan dapat dimulai dari sejak awal tanam yaitu dengan memperkaya tanah dengan mikroba/jamur tricoderma dan menggunakan pestisida nabati pada tanaman misalnya menggunakan Jamur Beauveria.

Trichoderma sp., adalah satu jenis jamur yang diketahui dapat membunuh jamur lain. Cara kerjanya mudah, spora trichoderma dapat menempel pada badan jamur lain lalu membentuk hifa (benang spora) yang akan mengikat dan menggulung jamur lain hingga jamur tersebut mati.

Jamur Beauveria bassiana merupakan cendawan entomopatogen, yaitu cendawan yang dapat menimbulkan penyakit pada serangga. Jamur ini bersifat saprofit, atau bisa disebut tidak bisa memproduksi makanannya sendiri, maka dari itu jamur B. bassiana menjadi parasit dan hidup dari mengambil nutrisi inangnya. Inang jamur B. bassiana adalah serangga, bahkan hampir semua serangga bisa terinfeksi olehnya. Jamur akan berkembang dalam tubuh inang dan menyerang seluruh jaringan tubuh, sehingga serangga mati.

Karena cara kerjanya yang cukup efektif dan cepat, B. bassiana banyak digunakan sebagai agen hayati pembasmi hama wereng coklat, walang sangit, hama penggerek batang dll. (8villages .com)

Dalam hal ini bukan berarti tidak boleh menggunakan pestisida kimia , akan tetapi pestisida kimia digunakan sebagai cara terakhir untuk mengendalikan OPT/ organisme pengganggu tanaman yang tidak mampu jika dikendalikan menggunakan agensia hayati.

Akan tetapi dari 4 faktor teknis budidaya diatas ada satu faktor yang terkadang mengalahkan 4 faktor tersebut  yaitu kondisi lingkungan, dalam hal ini curah hujan dan temperatur.

Demikian ulasan mengenai faktor pendukung keberhasilan budidaya bawang putih, semoga bisa menambah wawasan dan bermanfaat untuk anda.

Untuk membeli benih bawang  putih atau perlengkapan pertanian lainnya silakan kunjungi SetraTani.com

Sumber : Channel Youtube BPTP Jateng