Cara Menanam Tomat Di Dataran Tinggi

Budidaya tomat sangat menjanjikan untuk diusahakan, karena permintaan pasar terus merangkak naik,yang mana hal ini ditandai dengan meningkatnya produksi tomat setiap tahunnya.

Tomat dapat ditanam di dataran rendah hingga pegunungan, jika anda ingin menanam tomat di dataran tinggi, pilih varietas yang memang khusus diperuntukkan di kawasan pegunungan.

Agar produksinya optimal dibutuhkan cara dan waktu budidaya yang tepat, untuk itu diperlukan benih yang jelas daya produksinya dan dapat diterima pasar.

Jika anda tertarik membudidayakannya, berikut ini kami paparkan tahapan-tahapan cara menanam tomat di dataran tinggi.

Tahap pengolahan lahan

Gemburkan lahan dengan cara ditraktor, dibajak atau dicangkul.

Buat bedengan dengan ukuran lebar 110-120 cm, jarak antar bedengan 30-40 cm, tinggi 40-50 cm, namun jika lahannya dengan pengairan terbatas atau mudah kering maka tinggi bedengan cukup 30 cm, sedangkan panjangnya disesuaikan dengan lahan yang digunakan.

Taburkan kapur pertanian atau dolomit pada 2 minggu sebelum tanam, tujuannya adalah agar pH tanah menjadi netral,

Dosisnya disesuaikan dengan tingkat keasaman tanah sebelum diberi perlakuan, misalnya jika pH awalnya 6 maka kebutuhan dolomitnya sebanyak 750 kg/hektar, secara lengkap kebutuhan dolomit dapat dilihat pada tabel berikut.

Berikan pula pupuk organik sebanyak 20 ton per hektar atau rata-rata 1 kg/tanaman.

Pada 10 hari sebelum tanam bedengan diberi pupuk dasar kimia, jenis pupuk yang diberikan adalah NPK, ZA, Superphos dan KCL, perbandingan dari masing-masing pupuk tersebut adalah 5:2:4:5, dari setiap 800 kg campuran pupuk kimia ini tambahkan insektisida karbofuran sebanyak 20 kg dan aduk secara merata.

Untuk setiap luasan bedengan 25 m2 taburkan campuran pupuk tersebut sebanyak 10 kg, jumlah ini cukup untuk populasi 84 tanaman atau rata-rata 119 gram per tanaman.

Setelah perlakuan pupuk dasar, bedengan ditutup dengan tanah secara merata kemudian rapikan permukaan bedengan.

Tutup bedengan dengan mulsa hitam perak, dengan warna perak di bagian atas. Pemasangan mulsa sebaiknya dilakukan siang hari agar mulsa mudah ditarik dan dikembangkan maksimal.

Tahap persemaian

Sebelum ditanam, benih tomat disemai terlebih dahulu, kegiatan persemaian dapat dilakukan bersamaan dengan pengolahan lahan yaitu 2-3 minggu sebelum pindah tanam.

Penyemaian dapat dilakukan pada pot tray, mini polybag berdiameter 3-5 cm atau sistem sosis, jika menggunakan polybag, lubangi bagian ujungnya.

Media semai yang digunakan adalah berupa campuran tanah yang diayak sebanyak 2 ember, pupuk organik 1 ember ditambah 165 gram TSP atau SP 36 yang dihaluskan, serta 75 gram karbofuran.

Komposisi media semai ini cukup untuk 300 polybag, sementara kebutuhan benihnya antara 200-250 gram per hektar.

Siapkan juga tempat untuk menyusun polybag tersebut, setelah tersusun rapi siram media semai tersebut sampai jenuh yang ditandai dengan keluarnya air dari lubang ujung bawah polybag, sementara pada sistem sosis sebelum dipotong-potong rendam terlebih dahulu sekitar 5-10 menit.

Masukkan benih satu persatu dengan kedalaman 0,5 cm, setelah seluruh polybag terisi benih, tutup dengan tanah hasil ayakan atau arang sekam, untuk mempercepat perkecambahan tutup persemaian dengan plastik berwarna gelap.

Untuk menghindari terpaan hujan, persemaian diberi naungan dari plastik transparan atau sungkup dengan tinggi minimal 50 cm.

Setelah 3-5 hari setelah semai, plastik gelap penutup persemaian dibuka, biasanya benih sudah berkecambah yang ditandai dengan munculnya kecambah ke atas permukaan tanah.

Agar mendapat bibit yang sehat, persemaian harus dirawat dengan baik, jika diperlukan siram persemaian setiap pagi dan sore secara merata.

Antara 3-5 hari sekali persemaian disemprot dengan campuran pupuk daun, fungisida dan insektisida, hal ini dilakukan untuk  mengejar pertumbuhan sekaligus menghindari serangan hama dan penyakit.

Tahap pindah tanam dan perawatan

Bibit tomat siap dipindah tanam jika sudah memiliki daun sejati sebanyak 4 helai atau sudah berusia 14-18 hari setelah semai, waktu pindah tanam yang terbaik adalah sore hari.

Satu hari sebelum pindah tanam buat lubang tanam pada bedengan dengan cara melubangi mulsa secara hati-hati, jarak ideal tanaman tomat yaitu 50-60 cm untuk jarak dalam barisan dan 60-70 cm jarak antar barisan.

Dengan lebar bedengan 110-120 cm maka tiap bedengan dapat ditanami 2 baris tanaman.

Sebelum dipindah tanam, polybag semai disiram terlebih dahulu hingga jenuh, agar saat dilepas dan bibit dipindah tanam, tanah polybag tidak hancur. Tanam bibit  pada lubang tanam dengan hati-hati dan lakukan penyiraman setelah selesai penanaman.

Jika ada tanaman yang gagal tumbuh, lakukan penyulaman selambat-lambatnya 14 hari setelah penanaman.

Agar tanaman tegak dan tidak roboh saat diterpa angin dan hujan, tanaman dipasangi ajir. Ajir sepanjang 1,5-2 meter dipasang tegak dengan cara membenamkan sepanjang 25 cm kedalam tanah dan berjarak 10-15 cm dari tanaman. Pemasangan ajir sebaiknya dilakukan pada 1-7 hari setelah tanam agar tidak mengganggu sistem perakaran tanaman.

Ikat tanaman pada ajir, ikatan pertama dilakukan pada batang, setelah tanaman meninggi pengikatan dilakukan pada percabangan pertama.

Pada pertumbuhan awal, tanaman tomat membutuhkan cukup air tapi tidak berlebih, sehingga penyiraman dapat dilakukan secara berkala terutama pada musim kemarau,kecukupan air menjadi sangat penting saat tanaman memasuki masa pembungaan dan pembentukan buah.

Kecukupan unsur hara juga harus diperhatikan agar tanaman dapat tumbuh dan berkembang optimal untuk itu waktu aplikasi dan dosis pupuk susulan harus tepat.

Pemupukan susulan dilakukan pada fase vegetatif yaitu pada usia 10-30 hari setelah tanam dan pada fase generatif yaitu pada usia diatas 30 HST.

Pemupukan susulan pada fase vegetatif dilakukan sebanyak 3 kali yaitu pada usia 10 HST, 20 HST dan 30 HST.  Sedangkan pada fase generatif dilakukan pada usia 40 HST dan 60 HST.

Aplikasi pemupukan susulan ini dilakukan dengan sistem kocor, dosisnya yaitu satu ember ukuran 13 liter untuk 50 tanaman atau 1 gelas berukuran 240 ml per tanaman. Ragam dan takaran pupuk secara lengkap dapat dilihat pada tabel berikut.

Lakukan juga perempelan atau pewiwilan tunas yang berada pada ketiak daun, perempelan sebaiknya dilakukan saat tunas masih kecil.

Pengendalian hama penyakit dan penyiangan gulma juga sangat penting dilakukan, pengendalian lebih baik dilakukan secara preventif yaitu melalui penyemprotan pestisida berkala.

Jenis hama yang sering menyerang tomat adalah kutu kebul dan ulat buah, hama ini sangat berpotensi menggagalkan panen, sedangkan penyakit yang sering menyerang tanaman tomat yaitu layu bakteri, layu fusarium dan gemini virus atau virus kuning.

Sebelum aplikasi pilih insektisida maupun fungisida sesuai jasad sasaran, misalnya untuk mengendalikan virus kuning, jasad sasarannya adalah kutu kebul, karena hama ini yang menularkan virus kuning.

Begitu juga gulma yang tumbuh di parit antar  bedengan juga harus dibersihkan karena menjadi sarang hama.

Penggunaan fungisida atau insektisida sebaiknya tidak terus menerus menggunakan satu bahan aktif yang sama, tetapi diselang seling dengan beberapa merek yang bahan aktif dan cara kerjanya berbeda hal ini untuk menghindari kekebalan pada jasad sasaran.

Tahap pemanenan

Tomat dataran tinggi pada usia 85-90 HST sudah mulai dapat dipanen, kriteria masa petik yang optimal dapat dilihat pada kulit buah yang sudah berubah dari hijau menjadi kekuningan.

Proses panen terbaik dilakukan pada pagi atau sore hari dan saat cuaca cerah, jika panen dilakukan siang hari dapat meningkatkan penguapan air dari buah yang dipetik, kondisi tersebut dapat menurunkan daya simpan hasil panen.

Demikian penjelasan tahapan-tahapan cara menanam tomat di dataran tinggi, semoga bermanfaat untuk anda.

Untuk membeli benih tomat silakan kunjungi SentraTani.com