Dalam budidaya tanaman kubis masalah utama yang dihadapi adalah serangan hama. Salah satu hama utama yang biasanya menyerang tanaman kubis ini adalah hama ulat daun plutella xylostella.

Imago P. xylostella berupa ngengat berwarna abu-abu sampai coklat kelabu dan pada saat sayap dilipat nampak tiga buah tanda berupa gelombang seperti berlian (diamond) atau terdapat bentuk segitiga sepanjang punggungnya. Ngengat beristirahat pada siang hari. Umur ngengat 2 – 4 minggu. Ngengat betina mampu menghasilkan telur 180 – 320 butir. Daur hidup dari telur sampai ngengat pada ketinggian 250 m di atas permukaan laut (dpl) 12 – 15 hari dan 20 – 25 hari pada ketinggian 110 m dpl.

Telurnya berwarna kuning kehijauan diletakkan di sekitar tulang daun pada permukaan bagian bawah daun, dalam satu kelompok sejumlah 1 – 6 telur.

Serangga P. xylostella merusak tanaman pada stadium larva. Larva yang baru menetas akan merayap ke permukaan daun dan melubangi epidermis. Pada umumnya larva memakan permukaan daun bagian bawah, sehingga tinggal tulang-tulang daun dan epidermis daun bagian atas. Jika jumlah larva relatif banyak dapat menghabiskan tanaman kubis yang berumur satu bulan dalam waktu 3 – 5 hari.

Umumnya serangan berat terjadi pada musim kemarau pada umur 5 – 8 minggu.

Ulat daun kubis mulai menyerang sejak awal pra pembentukan krop (0 – 49 hst) sampai fase pembentukan krop (49 – 85 hst).

Serangan hama P. xylostella ini dapat mengakibatkan kehilangan hasil 50–100 persen apabila tidak dikendalikan. Untuk mengetahui cara pengendalian ulat kubis, silakan simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Pengendalian ulat daun kubis plutella xylostella dapat dilakukan dengan 3 cara.

  1. Melakukan rotasi tanaman, tujuannya untuk memutus siklus hama Plutella xylostella tersebut.
  2. Menerapkan penanaman tumpangsari misalnya dengan menanam daun bawang, bisa juga dengan tanaman repellent (penolak hama) seperti bunga tahi ayam atau tagetes. Tagetes sering disebut tahi ayam karena baunya yang cukup menyengat tapi mempunyai bentuk bunga yang unik dan warna yang mencolok. Tanaman ini merupakan salah satu herba hias yang biasa digunakan sebagai tanaman pagar. Sebagai pengendali hayati tagetes disebut tumbuhan refugia yang merupakan tumbuhan yang tumbuh di sekitar tanaman yang dibudidayakan yang berpotensi sebagai mikro habitat bagi musuh alami (parasitoid maupun predator). Tagetes efektif dalam pencegahan nematoda penganggu tanaman seperti Meloidogyne sp., Pratylenchus sp., sehingga dapat digunakan sebagai tanaman tumpang sari. Selain itu, tagetes juga bermanfaat sebagai penangkal serangga, anti bakteri dan anti jamur karena kandungan bioaktifnya. Kandungan bioaktif yang terdapat pada tanaman ini seperti terpenoid, karotenoid, tegetiin, terthienyl, helenian, serta flavoxanthin. Tagetes juga bersifat racun kontak pada beberapa hama seperti kutu daun (Aphis craccivora) dan ulat daun (Plutella xylostella). Selain menanam tagetes bisa juga dengan menanam tanaman refugia lainnya.
  3. Melakukan pengendalian hama secara kimiawi atau pengendalian dengan menggunakan zat kimia.  Untuk mengendalikan hama ulat daun Plutella xylostella dapat dilakukan dengan menyemprotkan insektisida. Diantara bahan aktif insektisida yang ampuh untuk mengendalikan hama ini adalah klorpirifos, lamda sihalotrin dan profenofos.

Demikian ulasan mengenai Pengendalian Ulat Kubis, semoga artikel ini dapat menambah wawasan dan bermanfaat untuk anda.

Untuk membeli insektisida, benih kubis ataupun perlengkapan pertanian lainnya silakan kunjungi SentraTani.com

Referensi: Channel Youtube AGRONOMIST