Urin kambing merupakan limbah dari peternakan kambing yang biasanya dibuang begitu saja. Sebenarnya dengan pengolahan tertentu urin kambing ini akan menjadi lebih bermanfaat, yaitu dapat diolah menjadi pupuk organik cair (POC) dan pestisida nabati.

Untuk mengetahui Cara Fermentasi Urin Kambing, silakan simak penjelasannya pada artikel berikut ini.

BAHAN DAN ALAT

  • 10 liter urine kambing
  • 1 kg empon-empon seperti jahe, kunyit, laos, dll
  • 100 ml EM4 Pertanian
  • 100 gram terasi
  • 100 gram dolomit
  • 1 liter molase
  • Ember yang memiliki tutup, alat pengaduk, aerator aquarium

CARA PEMBUATAN

  • Tahap pertama masukkan 10 liter urin kambing ke dalam ember.
  • Haluskan empon-empon dengan diblender atau ditumbuk, kemudian masukkan ke dalam urin kambing. Empon-empon ini memiliki kandungan dan aroma yang tidak disukai oleh hama sehingga nantinya selain dapat digunakan sebagai pupuk, dapat pula dilakukan sebagai pestisida nabati. Selain itu empon-empon juga berfungsi untuk mengurangi bau menyengat dari urin kambing.
  • Masukkan starter/dekomposer atau pengurai untuk mempercepat proses fermentasi berupa EM4 (effective microorganisme 4) pertanian (kemasan warna kuning) yang berfungsi sebagai starter atau pengurai. Adapun dosis EM4 untuk takaran 10 liter urin kambing dibutuhkan 100 ml.
  • Tambahkan 1 liter molase dan 100 gram terasi yang berfungsi sebagai nutrisi untuk mikroorganisme dalam EM4. Selain molase dapat pula menggunakan gula pasir atau gula merah, jika menggunakan gula merah harus dihaluskan terlebih dahulu agar mudah larut.
  • Tambahkan 100 gram dolomit atau kapur pertanian yang berfungsi untuk menetralkan keasaman urin kambing. Selain itu dolomit juga berfungsi untuk mengurangi bau tidak sedap dari urin kambing.
  • Aduk hingga semua bahan tercampur merata.
  • Tutup jerigen rapat-rapat dalam 7 hari pertama untuk proses fermentasi, akan tetapi lakukan pengadukan setiap 2 hari sekali letakkan di tempat teduh yang terhindar dari sinar matahari secara langsung. Hari ke-8 tutup dibuka dan diaerasi menggunakan aerator selama 1 minggu. Tujuan aerasi ini adalah untuk menambahkan oksigen ke dalamnya sehingga mikroorganisme di dalamnya akan berkembang dengan baik dan juga untuk membuang amonia sehingga lebih aman untuk diaplikasikan pada tanaman. Akan tetapi jika tidak ada aerator, bisa diganti dengan melakukan pengadukan manual selama 15 menit setiap harinya.
  • Setelah 14 hari, proses fermentasi urin kambing sudah jadi dan siap digunakan untuk sebagai pupuk organik cair atau pestisida nabati.

Cara aplikasinya dapat dilakukan dengan dikocor atau disemprotkan dengan dosis 200 ml per 10 liter air dengan interval pemberian setiap 1 minggu sekali.

Demikianlah ulasan mengenai Cara Fermentasi Urin Kambing, semoga artikel ini dapat menambah wawasan dan bermanfaat untuk anda.

Untuk membeli pupuk berbagai jenis ataupun perlengkapan pertanian lainnya, silakan kunjungi SentraTani.com.

Referensi: Channel Youtube Kebun Organik