Edamame adalah kedelai yang berbiji sangat besar, bobotnya mampu mencapai 30-50 gram per 100 bijinya. Edamame dipanen muda dan dipasarkan dalam bentuk segar dan polong masih hijau dan bisa disebut dengan kedelai sayur. Masa pemeliharaannya kurang lebih 2 bulan dan biasa dibudidayakan di daerah sub tropis seperti di Jepang, Taiwan dan China.

Di Jepang kedelai ini disebut dengan edamame, edamame berasal dari kata eda yang berarti cabang dan mame yang berarti kacang atau dapat juga disebut dengan buah yang tumbuh di bawah cabang.

Jika anda tertarik untuk membudidayakannya alangkah baiknya untuk menyimak ulasan mengenai cara budidaya edamame berikut ini untuk dijadikan referensi.

PENGOLAHAN LAHAN

Gemburkan lahan dengan dicangkul atau dibajak, kemudian buat bedengan dengan lebar 100  cm, tinggi 30-40 cm, untuk penanaman di musim kemarau disarankan tinggi bedengan cukup 30 cm saja, sebab air irigasi biasanya sulit didapatkan, sedangkan panjang menyesuaikan kondisi lahan dan jarak antar bedengan sekitar 40-50 cm. Bedengan ini masih berupa bedengan kasar atau setengah jadi, dikatakan demikian karena tanahnya baru dibentuk saja dan belum ditreatment dengan tindakan-tindakan penting lainnya.

Setelah terbentuk bedengan kasar langkah selanjutnya adalah menebarkan pupuk kandang yang sudah difermentasi di atas bedengan dengan dosis 2-3 ton untuk setiap 1000 meter persegi luasan lahan. Pupuk kandang fermentasi sangat baik untuk memperbaiki kesuburan dan struktur tanah.

Tindakan selanjutnya adalah mengaplikasikan nutrien anorganik yang digunakan untuk memperbaiki hara tanah pertanian dengan unsur fosfat dominan, sebab unsur ini sangat dibutuhkan oleh semua jenis tanaman yang memacu perkembangan akar, sehingga perakaran lebih lebat, sehat dan kuat bahkan kelak dalam pertumbuhannya dapat menguatkan batang tanaman sehingga dapat mengurangi resiko roboh.

Kemudian rapikan tepi bedengan dengan cangkul, tindakan ini dilakukan sekaligus untuk mengendalikan gulma yang tumbuh di tepi bedengan terutama pada bedengan yang penggarapannya sempat tertunda beberapa hari karena cuaca sehingga ditumbuhi gulma. Kemudian tanah yang terkumpul pada parit bedengan dinaikkan ke atas untuk menimbun dan menutupi pupuk yang telah diaplikasikan sebelumnya.

Berikutnya adalah menggenangi lahan budidaya dengan air, pada lahan yang kondisi tanahnya kering, pengairan seperti ini tentu sangatlah penting, namun demikian pada lahan yang tanahnya basah atau lembab sekalipun, pengairan seperti ini juga tak kalah penting dilakukan, utamanya untuk memperkokoh bedengan dan mempermudah pemasangan mulsa plastik agar dapat dikunci dengan baik menggunakan bilah bambu.

Sampai disini bedengan siap dipasangi mulsa plastik hitam perak, pemasangannya dengan warna perak di atas dan warna hitam di sisi bawah, tujuannya agar sinar matahari yang mengenai mulsa plastik berwarna perak dapat memantul ke atas sehingga merata menyinari tanaman budidaya.

Mulsa plastik ini memiliki lebar 120 cm. Pemasangannya dilakukan dengan mengunci ujung mulsa plastik dengan tanah bedengan menggunakan sebilah bambu kemudian gelar plastik mulsa memanjang sepanjang bedengan kemudian potong sesuai ukuran panjang. Setelah mulsa plastik dipotong sesuai ukuran panjang yang dibutuhkan, lakukan penguncian pula di ujung mulsa plastik tersebut sebagaimana penguncian sebelumnya, begitupun pada mulsa plastik bagian samping perlu dikunci pula agar mulsa plastik rapat menutupi bedengan dan tidak mudah terbuka karena tertiup angin.

Setelah mulsa plastik terpasang langkah selanjutnya adalah membuat lubang tanam dengan melubanginya, adapun jarak tanamnya adalah 25-30 cm.

Selain untuk menekan penguapan, mulsa plastik ini juga dapat menekan pertumbuhan gulma.

Diamkan lahan selama 1-2 hari agar semua tindakan yang telah dilakukan berproses sempurna sehingga lahan siap untuk ditanami.

Penanaman atau budidaya edamame dapat dilakukan dengan menanam langsung benih dengan cara menugal tanah atau dapat juga dilakukan penyemaian terlebih dahulu sehingga diperoleh bibit tanaman edamame yang cukup umur untuk ditanam.

Tentunya dari masing-masing cara penanaman memiliki kelebihan dan kekurangan dalam penerapannya.

Akan tetapi pada kesempatan kali ini kita akan membahas cara budidaya edamame dengan metode persemaian.

TAHAP PENYEMAIAN

Peralatan dan bahan yang dibutuhkan adalah sebagai berikut :

  • Wadah persemaian untuk menempatkan polybag, dapat terbuat dari bambu, kayu atau bahan lainnya.
  • Polybag dengan ukuran menyesuaikan dengan ukuran bibit
  • Media tanam dengan komposisi tanah, sekam dan pupuk kandang
  • Benih edamame yang berkualitas baik, sebab benih yang berkualitas dapat memberikan hasil atau produksi yang melimpah
  • Air untuk menyiram

Adapun langkah-langkah dalam melakukan penyemaian adalah sebagai berikut :

Masukkan media tanam secukupnya ke dalam polybag dan diusahakan jangan terlalu padat, kemudian letakkan polybag-polybag tersebut pada wadah persemaian, wadah persemaian berukuran panjang 100 cm dan lebar 50 cm ini mampu menampung hingga ratusan polybag kecil.

Setelah polybag terisi dengan media tanam, penyemaian dapat dilakukan, caranya buat lubang tanam menggunakan jari dengan kedalaman 1,5 cm, kemudian masukkan benih edamame kedalamnya, setiap polybag diisi dengan satu benih. Peletakannyapun harus memperhatikan posisi titik tumbuh berada atau menghadap ke atas.

Usahakan benih diperoleh dari penjual yang terpercaya, memiliki reputasi yang baik, tidak dalam masa kadaluarsa dan beberapa persyaratan benih lainnya.

Setelah semua polybag ditanami benih langkah selanjutnya adalah menyiraminya dengan air secara tipis-tipis, artinya penyiraman jangan sampai menjadikan media tanam basah tergenang air, namun hanya cukup untuk menjaga kelembaban saja. Bahkan selesai penyiraman perlu pula dilakukan penyempurnaan penutupan benih dengan media tanam, agar tahapan penyemaian benih benar-benar sempurna.

Lalu tutup persemaian menggunakan tutup atau wadah persemian lainnya dan disimpan di tempat teduh atau tidak terkena sinar matahari secara langsung. Penutup dapat dibuka apabila benih telah berkecambah biasanya satu minggu setelah semai, pemeliharaan penting yang dilakukan adalah menjaga kelembaban media tanam. Pada umur ini bibit edamame siap dipindah tanam pada lahan yang telah disiapkan.

Penyemaian dan pengolahan tanah sebaiknya dilakukan secara paralel atau dalam waktu yang bersamaan, agar ketika bibit edamame siap dipindah tanam yaitu umur 7 hari, maka lahan budidaya juga harus selesai diolah dan siap ditanami. Dengan demikian pindah tanam bibit edamame dapat dilakukan tepat  waktu.

TAHAP PENANAMAN

  • Sebelum bibit tanaman edamame pada polybag persemaian dipindah tanam, padatkan terlebih dahulu media tanam pada polybagnya, agar media tanam tidak pecah pada saat polybag dibuka atau disobek.
  • Setelah itu sobek polybag dan keluarkan bibit beserta media tanam yang menyertainya
  • Kemudian buat lubang tanam dengan kedalaman sekitar 5-7 cm
  • Tanam bibit edamame beserta media tanam yang menyertainya, kemudian tutup dengan tanah disekitar lubang tanam pada bedengan
  • Setiap satu lubang tanam diisi dengan satu bibit tanaman edamame
  • Penanaman sebaiknya dilakukan pada sore hari, agar bibit tanaman dapat segera beristirahat dan tidak stres.

PEMUPUKAN

Dalam budidaya edamame, pemupukan memiliki peranan penting agar tanaman tumbuh dengan dengan baik dan berproduksi maksimal, karenanya pada saat tanaman edamame berumur kurang dari 10 HST perlu diberi pupuk anorganik untuk memacu pertumbuhan tanaman, aplikasinya dengan cara disemprot menggunakan sprayer.

Kemudian pada saat tanaman memasuki umur 10 HST edamame kembali diberi pupuk pertumbuhan, dengan takaran setiap satu gelas air mineral pupuk padat dilarutkan dengan 30 liter air, kemudian aduk hingga merata. Aplikasinya berbeda dengan pemupukan sebelumnya, agar efisien  maka pemupukan dilakukan dengan cara dikocor menggunakan gayung ke setiap lubang tanam pada mulsa plastik. Pemupukan berikutnya dilakukan dengan interval satu minggu sekali melihat kondisi tanaman.

Pada umur 20-25 hari tanaman edamame diaplikasi dengan pupuk yang bertujuan untuk meningkatkan bunga. Aplikasi pupuk serupa kembali dilakukan manakala tanaman telah berumur 40-45 HST, tujuannya untuk meningkatkan bunga dan buah edamame.

PERAWATAN

Perawatan sehari-hari tanaman edamame tidaklah sulit, yaitu meliputi penyiangan, pemasangan ajir dan pengendalian OPT.

Penyiangan gulma harus dilakukan agar tidak terjadi persaingan atau perebutan unsur hara dengan tanaman pokok, sebab meskipun lahan telah ditutupi dengan mulsa plastik terkadang gulma masih pula tumbuh pada sela-sela lubang tanam di mulsa plastik.

Pemasangan ajir juga perlu dilakukan untuk membantu menegakkan pertumbuhan tanaman edamame, sebab pada umur sekitar 25 hHST akan banyak tanaman edamame yang roboh karena berbagai sebab.

Sedangkan untuk pengaturan organisme pengganggu tanaman perlu dilakukan pengendalian secara terpadu. Pada musim kemarau kutu kebul atau kutu putih seringkali menyerang tanaman. Disebut kutu putih karena serangga ini berukuran kecil dan berwarna putih yang biasanya banyak ditemukan berkelompok pada daun, dampaknya daun menjadi keriting, menguning dan belang, dapat menyebabkan tanaman kerdil dan tidak produktif. Selain itu kutu kebul juga menjadi penyebar virus penyakit kuning.

PEMANENAN

Edamame dipanen pada umur kurang lebih 65 HST, pada saat itu polong telah siap dipetik, karena tingkat ketuaan polong telah cukup penuh dan warnanya hijau cerah.

Pemanenan dilakukan dengan cara mencabut hingga ke akar-akarnya, setelah itu dilakukan seleksi dengan cara memetik polong dan mengelompokkannya menjadi beberapa bagian sesuai ukuran, selanjutnya edamame dibersihkan dan dikemas untuk dipasarkan dalam bentuk segar.

Edamame biasa disantap sebagai makanan cemilan, pengolahannyapun cukup sederhana yakni dikukus selama kurang lebih 10-15 menit, rasanya manis dan teksturnya berbeda jika dibandingkan dengan kedelai lain pada umumnya.

Demikian ulasan mengenai cara budidaya edamame, semoga artikel ini bermanfaat untuk anda.

Untuk membeli benih edamame ataupun perlengkapan pertanian lainnya silakan kunjungi SentraTani.com

Sumber : Channel Youtube TVRI Jogja