Secara umum tanaman pisang dapat dibudidayakan hampir di seluruh daerah di Indonesia. Pisang dapat tumbuh di daerah tropis baik dataran rendah maupun dataran tinggi dengan ketinggian tidak lebih dari 1.600 m di atas permukaan laut (dpl).

Untuk keberhasilan usaha tani pisang, petani pisang  perlu memperhatikan penyakit yang sangat berbahaya dan mematikan bagi tanaman pisang.  Penyakit pisang dapat mengakibatkan turunnya kualitas dan kuantitas produksi.

Salah satu penyakit utama tanaman pisang adalah penyakit layu fusarium . Nama lain dari layu fusarium adalah penyakit Panama yang disebabkan oleh cendawan. Penyakit ini sukar dikendalikan, mudah berpindah dan mampu bertahan di dalam tanah dalam jangka waktu yang cukup lama.

Untuk lebih jelasnya tentang pengendalian layu fusarium pada tanaman pisang mari simak penjelasannya berikut ini.

Gejala   :

  • Cendawan F. oxysporum menyerang tanaman melalui akar,
  • Daun tua menguning mulai dari pinggiran daun, tangkai daun patah, layu dan tanaman mati,
  • Kadang – kadang lapisan luar dari batang palsu terbelah mulai dari permukaan tanah,
  • Tanaman yang terserang tidak mampu berbuah atau tidak terisi,
  • Jika pangkal batang dibelah membujur terlihat garis coklat atau hitam dari pangkal batang ke atas, melalui jaringan pembuluh pangkal dan tangkai daun.

Pengendalian :

  1.   Cara Kultur Teknis
  • Gunakan benih sehat
  • Pastikan benih bukan berasal dari daerah/kawasan/lokasi serangan atau rumpun terserang. Gunakan benih dari kultur jaringan atau benih baru.
  • Bibit progres dengan alat – alat steril ( didesinfektan ) dengan bahan desinfektan, misalnya formalin 4-8%, alkohol 70%, atau dengan kloroks 1% ( Bayclin ).
  • Lakukan pemupukan organik ( kompos, pupuk kandang ) dicampur dengan agens hayati Trichoderma sp. Atau Gliocladium sp. Dengan cara sebagai berikut :
  • Pada saat penimbunan lubang tanam : Campurkan pupuk kandang atau kompos sebanyak ½ karung (10 kg) dan 250 g Trichoderma sp. Per lubang tanaman pada tanah bagian atas lalu masukan ke dalam lubang. Selanjutnya diikuti oleh tanah bagian bawah. Lakukan pemadatan dan penyiraman dengan air secukupnya kemudian dibiarkan sekurangnya 2 minggu.
  • Pada saat pemupukan susulan : Berikan campuran pupuk kandang/kompos susulan sebanyak 1 karung dan 500gr Trichoderma sp./ rumpun. Pemberian dilakukan dengan membuat parit sekeliling rumpun dengan lebar dan dalam ± 25 cm, jarak dari rumpun ± 50cm.
  • Lakukan penjarangan anakan, sisakan maksimal 2 anakan.
  • Lakukan pengiliran tanaman dengan tanaman bukan inang, misalnya pepaya, nanas atau jagung.
  • Lakukan pengaturan air dengan membuat sistem drainase agar air dapat terkendali dan berfungsi optimal bagi tanaman. Lakukan pembuangan terhadap air yang tergenang atau penyiraman terhadap tanaman yang kurang air.
  • Hindari terjadinya luka pada akar.
  • Lakukan sistem pindah tanam setelah 3 kali panen maksimal 3 tahun.
  • Lakukan pembrongsongan buah segera setelah ontong merunduk.
  • Lakukan pemotongan jantung pisang ( bunga jantan ) segera setelah pembentukan sisir berhenti.
  • Lakukan pengapuran atau pemberian abu kapur/kapur pertanian/dolomit  untuk menaikan atau menjaga kestabilan pH tanah.
  • Lakukan pengisolasian untuk mencegah penyebaran patogen pada lahan baru dari dalam tanah dengan menggunakan sekam, dengan cara membuat parit ( untuk memisahkan lahan baru dengan lahan yang terserang patogen ) sedalam perakaran ( rhizo sphere ) pisang.Taburkan arang sekam ± ¾ tinggi parit. Buat saluran drainase. Untuk tanaman yang dimatikan dengan minyak tanah karena sakit, buat parit di sekeliling rumpun dengan jarak 1,5 m dari tanaman, kemudian taburi arang sekam.
  1.   Cara fisik/mekanis
  • Eradikasi (pemusnahan total tanaman yang terserang penyakit ataupun seluruh tumbuhan inang untuk membasmi suatu penyakit) rumpun tanaman terserang sampai ke akar – akarnya atau segera matikan tanaman dengan cara menyuntikkan herbisida sistemik yang telah terdaftar dan diizinkan oleh Menteri Pertanian, atau minyak tanah 2-3 ml ( ½ sendok teh )/batang (tergantung pada ukuran batang semu) pada batang semu dan anakan, biarkan mengering. Setelah mengering, bongkar tanaman dan buang.
  1.   Cara biologi
  • Gunakan agens hayati seperti Trichoderma sp., Fliocladium sp., Chaetamium sp., Pseudomonas flurescens, Bacillus subtilis yang diintroduksi ( dicampur ) bersama kompos atau benih ( 100g /benih ). Aplikasi agens hayati dilakukan setelah tanam dan diulang secara periodik.
  • Perlakukan bibit dengan agens hayati. Sebelum bibit ditanam bukalah kantong plastik dari bonggol, lakukan pencelupan dengan suspensi/campuran agens hayati Pf ( Pseudomonas fluorescens ) dengan air (perbandingan 1 : 10) selama 15 menit.
  1.   Cara kimiawi
  • Lakukan sterilisasi ( disinfektan ) semua alat yang digunakan dengan menggunakan alkohol 70%, formalin 4-8%, kloroks 1% (bayclin yang diencerkan 1 : 5), atau dicuci bersih dengan sabun deterjen.
  • Injeksi minyak tanah atau herbisida sistemik pada tanaman sakit dan anakannya sebanyak 2 – 3 ml ( ½ sendok teh )/ tanaman tergantung ukuran/umur tanaman. Injeksi dapat diulangi hingga tanaman mati.
  • Aplikasi pestisida untuk nematoda Radopholus similis dan Meloidgyne ( penyebab luka pada akar ) dengan nematisida yang telah terdaftar oleh Menteri Pertanian. Nematisida yang terdaftar dan diizinkan tahun 2003, misalnya kardusafos 10%, karbosulfan 3%,Karbosulfan 5%. Nematisida tersebut berbentuk granul ( butiran ).
  • Bekas sarung tangan dibakar supaya tidak digunakan lagi. Cuci tangan atau bersihkan anggota tubuh ( mandi ) dengan air sabun.

Demikian penjelasan mengenai pengendalian layu fusarium pada tanaman pisang, semoga menambah wawasan dan bermanfaat untuk anda.

Untuk membeli bibit pisang silakan kunjungi SentraTani.com

Artikel Terkait

Cara Pengendalian Hama Dan Penyakit Tanaman Pisang Salah satu kendala dalam budidaya pisang adalah serangan hama dan penyakit. Hama dan penyakit tanaman pisang relatif tidak terlalu banyak, namun beber...