Kegiatan pengendalian hama pada tanaman jagung dilakukan agar tanaman jagung tidak mengalami gangguan kesehatan, yang akhirnya mengganggu hasil produksinya.

Hama adalah hewan yang merusak tanaman atau hasil tanaman karena aktivitas hidupnya, diantaranya adalah aktivitas hama untuk memperoleh makanan. Hama tanaman memiliki kemampuan merusak yang sangat tinggi, yang berakibat rusaknya tanaman atau bahkan gagal panen.

Dari berbagai jenis hama yang menyerang tanaman jagung diantaranya adalah ulat grayak.

Ada dua jenis ulat grayak yang menyerang tanaman jagung, masing-masing dengan nama ilmiah Spodoptera Frugiperda dan Spodoptera Litura. Keduanya sama-sama sangat berbahaya, karena menyerangnya merata, mulai daun hingga ke pangkalnya. Ulat ini biasanya menyerang daun tanaman jagung pada pucuknya dan serangannya sering terjadi pada malam hari dan dari tanaman muda hingga tanaman dewasa. Daun dapat dimakan habis dan hanya tersisa tulang daun saja. Ledakan populasi ulat grayak dapat muncul dan hilang secara tiba-tiba. Dengan bantuan angin, larva mampu menginvasi tanaman budidaya di sebelahnya.

Sebagaimana dijelaskan dalam cybex.pertanian.go.id, bahwa ulat grayak merupakan salah satu hama yang menyerang tanaman jagung. Ulat ini tidak berbulu dan biasa disebut oleh petani sebagai ulat tentara karena menyerang dengan populasi tinggi.

Siklus hidup ulat grayak dapat berlangsung dari 32 – 46 hari. Fase Telur selama 2-3 hari dengan jumlah telur dapat mencapai 1.046 telur. Fase larva selama 14-19 hari. Fase pupa selama 9-12 hari dan Fase Imago selama 7-12 hari. Ulat ini memiliki daya migrasi tinggi di mana imago mampu terbang 100 km/malam dan 500 km sebelum meletakkan telurnya.

Ulat grayak umumnya menyerang pada malam hari, sedangkan pada siang hari ulat ini bersembunyi di bawah tanaman, mulsa atau dalam tanah.

Gejala tanaman terserang ulat grayak adalah daun rusak terkoyak, berlubang tidak beraturan, terdapat kotoran seperti serbuk gergaji dan pada serangan berat daun menjadi gundul.

Untuk itu tindakan pengendalian harus dilakukan dengan tepat, adapun Pengendalian Hama Ulat pada Tanaman Jagung adalah sebagai berikut :

Pengendalian secara mekanis, dapat dilakukan adalah dengan cara mencari dan membunuh larva dan telur hama ini secara mekanis, yakni dengan dihancurkan dengan tangan.

Pengendalian secara biologis, dengan penggunaan musuh alami yang berperan sebagai agen pengendali hayati untuk mengurangi populasi hama ulat grayak. Beberapa contoh musuh alami dari hama ini yaitu jenis parasitoid Trichogramma spp. dan jenis predator cecopet, kumbang kepik, dan semut.

Pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan menyemprotkan insektisida. Akan tetapi sebelum mengaplikasikan insektisida ini harus dilakukan pengamatan langsung pada tanaman terlebih dahulu, jika serangan telah mencapai 10% barulah pengendalian secara kimiawi ini dapat dilakukan.

Sebelum mengaplikasikan insektisida ada beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya adalah dosis, waktu cara aplikasi dan pengaruhnya terhadap lingkungan termasuk terhadap musuh alami.

Jenis insektisida yang digunakan adalah insektisida sistemik racun kontak dan lambung dengan bahan aktif Metomil 40% seperti merek dagang DANGKE 40 WP.

Adapun dosisnya sesuaikan dengan yang tertera pada kemasan atau 3-4 gram/liter air, yaitu dengan mencampurkannya dengan air bersih dan mengaduknya hingga tercampur merata.

Sedangkan cara aplikasinya adalah dengan menyemprotkan larutan insektisida tersebut pada tanaman jagung akan tetapi jangan menyemprotkannya seperti saat menyemprot padi, usahakan agar nozzle-nya miring, agar racun dapat masuk hingga ke dalam tongkol atau pupusnya.

Waktu penyemprotan yang baik adalah pagi hari sebelum matahari tinggi atau dilakukan pada sore hari.

Demikian ulasan mengenai Pengendalian Hama Ulat pada Tanaman Jagung, semoga artikel ini dapat menambah wawasan dan bermanfaat untuk anda.

Untuk membeli insektisida, benih jagung, sprayer ataupun perlengkapan pertanian lainnya, silakan kunjungi SentraTani.com.