Pagoda atau sawi pagoda dikenal dengan nama lain ta ke cai atau tatsoi, sayur yang satu ini berasal dari beberapa daerah, salah satunya adalah Tiongkok. Bentuk dan warnanya sangat unik, pada bagian batang dan daunnya sangat renyah. Tanaman ini juga sangat tahan terhadap suhu dingin.

Untuk mengetahui cara menanam sawi pagoda, silakan simak penjelasannya pada artikel berikut ini.

PERSIAPAN BENIH

Pilihlah benih sawi pagoda yang berkualitas unggul, karena benih unggul memiliki tingkat pertumbuhan yang tinggi dan ketahanan yang baik terhadap serangan hama penyakit, sehingga keberhasilan budidayanya lebih optimal.

Benih sawi pagoda berkualitas unggul kini sangat mudah didapatkan di toko-toko pertanian di sekitar anda baik itu offline atau online seperti SentraTani.com.

PENYEMAIAN BENIH

Sawi pagoda tidak bisa langsung ditanam pada lahan, karena itu dibutuhkan proses persemaian.

Media semai yang digunakan berupa tanah, pupuk kandang yang halus dan arang sekam dengan perbandingan 1:1:1, aduk semua bahan media hingga merata, masukkan media ke dalam polybag atau bak khusus untuk persemaian. Usahakan media dalam keadaan lembab.

Taburkan benih sawi pagoda secara merata pada media semai sesuai kebutuhan, jangan terlalu padat, tutup menggunakan media semai yang sama agar benih yang disemaikan terhindar dari serangan serangga seperti semut.

Siram persemaian benih sawi pagoda secukupnya saja sampai cukup hanya sampai media lembab, jangan terlalu basah karena dapat mengakibatkan benih sawi pagoda menjadi busuk.

Tutup persemaian menggunakan plastik gelap untuk mempercepat perkecambahan, dan penutup tersebut dibuka setelah bibit tumbuh secara merata. Letakkan persemaian di tempat yang mudah terkena sinar matahari.

Setelah bibit pada persemaian berumur 7 hari, lakukan penyapihan dengan menanam bibit satu per satu pada polybag kecil, dan meletakkannya di tempat penyemaian yang telah diberi atap naungan berupa plastik putih.

Bibit sawi pagoda hasil persemaian benih siap ditanam pada usia 10-15 hari setelah semai.

PENGOLAHAN LAHAN DAN PENANAMAN

Pengolahan lahan dilakukan agar aerasi, drainase tanah baik serta membunuh organisme pengganggu tanaman. Gemburkan tanah dengan dibajak atau dicangkul dan langsung dibuat bedengan dengan ukuran 1×5 meter, tinggi bedengan 30 cm dan jarak antar bedengan 40-50 cm.

Buat lubang tanam pada bedengan dengan jarak tanam 40×50 cm, berikan pupuk kandang pada setiap lubangnya kemudian tutup kembali. Tanam bibit menyesuaikan dengan lubang tanam yang telah ditentukan, tanam 1 bibit pada setiap lubang.

TAHAP PERAWATAN

Perawatan sawi pagoda meliputi pengairan, penyiangan, pemupukan susulan dan pengendalian organisme pengganggu tanaman atau OPT.

Tanaman sawi pagoda memerlukan pengairan yang cukup selama masa pertumbuhannya. Penyiraman dapat dilakukan setiap hari pada pagi dan sore hari, dan untuk musim hujan penyiraman dilakukan secukupnya.

Pembersihan rumput atau penyiangan dilakukan secara rutin minimal sekali dalam seminggu, kebersihan lahan akan membantu kembang kol terhindar dari hama dan penyakit. Selain itu keberadaan rumput liar juga turut merebut unsur hara dari dalam tanah.

Hama yang biasanya menyerang tanaman sawi pagoda adalah ulat daun kubis dan belalang, gunakan cara manual dengan cara memungutnya, cara ini lebih aman jika dibandingkan dengan penyemprotan pestisida, maka dari itu lakukanlah pemantauan tanaman setiap hari untuk meminimalisir serangan.

Pengendaliannya dilakukan dengan cara sanitasi lahan, drainase yang baik, penggunaan pestisida nabati serta penggunaan pestisida kimia jika diperlukan.

Demikian ulasan mengenai cara menanam sawi pagoda, semoga artikel ini dapat menambah wawasan dan bermanfaat untuk anda.

Untuk membeli benih sawi pagoda ataupun perlengkapan pertanian lainnya, silakan kunjungi SentraTani.com.

Referensi: Channel Youtube AgroNews Indonesia