Sistem integrasi tanaman padi dengan itik merupakan penerapan keterpaduan antara komoditas padi dan ternak itik yang saling menguntungkan, yaitu efisien dalam penggunaan sarana produksi dan sarana peternakan.

Manfaat sistem budidaya integrasi padi dan itik antara lain menumbuhkan kesadaran petani tentang pentingnya mendukung pertanian berkelanjutan dengan mengurangi penggunaan pestisida, mengurangi hama seperti keong, wereng karena hama tersebut akan dimakan itik.

Kemudian secara tidak langsung dapat mengusir hama tikus, meningkatkan pendapatan petani melalui pengurangan biaya pestisida dan penyiangan pada tanaman padi serta biaya pakan itik 50% dari kebutuhan, selain itu dalam satu luasan yang sama dan pada waktu yang sama dapat dihasilkan padi dan itik tanpa berpengaruh pada produksi.

Komponen teknologi integrasi padi dan itik yaitu :

  1. Umur itik

Itik yang berumur 30 hari dilepas di petak sawah dengan umur padi yang sama yaitu 30 hari setelah sebar atau HSS, pembesaran itik sampai pada saat  7 hari sebelum panen padi.

  1. Kepadatan lebar

Setiap petak untuk satu koloni itik dengan kepadatan 7 ekor per 100 meter persegi sesuai luasan masing-masing petak

  1. Pemberian pakan

Pemberian pakan yang berupa dedak dan konsentrat dengan perbandingan 3:1 diberikan sebanyak 50% dari kebutuhan pada pagi hari di tempat istirahat itik.

  1. Cara pengandangan

Pengandangan menggunakan pagar plastik keliling pada setiap petak setinggi 0,6 m, Untuk tempat istirahat itik gundukan pematang yang dilebarkan tanpa kandang khusus, Itik berada di lahan 20 jam selama pembesaran.

  1. Jarak tanam padi

Jarak tanam padi menggunakan jajar legowo 2:1. Jajar legowo 2 : 1 adalah tipe jajar legowo dimana setiap dua baris tanaman diselingi oleh satu barisan kosong. Jarak tanam tipe legowo 2 : 1 adalah 20 cm x 10 cm x 40 cm (jarak antar barisan, jarak antar tanaman/barisan pinggir, jarak barisan kosong).

Pupuk yang diberikan mengandung bahan organik 2 ton per hektar pada saat pengolahan tanah dan ponska 300 kg ditambah urea 100 kg pada umur 25 HSS.

Pengendalian hama menggunakan pestisida tidak dilakukan, jika terpaksa menggunakan pestisida maka itik dikandangkan selama 2 hari.

Dalam teknologi ini output utamanya adalah

  1. Menuju pertanian organik karena penggunaan pestisida dalam teknologi ini hampir tidak dilakukan dan juga tidak dilakukan penyiangan.
  2. Menuju peningkatan pendapatan karena dalam satu lahan produksi padinya bisa meningkat sampai 10% dan dalam lahan yang sama bisa panen bebek/itik.

Teknologi ini sangat cocok dikembangkan di daerah yang lahannya sempit seperti di Jawa.

Yang perlu diperhatikan dalam teknologi ini yaitu umur itik harus sama dengan umur padi, jika padi berumur 30 hari maka umur itik juga harus 30 hari. Jumlah itik juga harus disesuaikan, karena jika terlalu banyak akan merusak tanaman padi dan jika terlalu sedikit maka tujuan utama penebaran itik yaitu untuk menekan populasi hama seperti keong, wereng dan lainnya tidak berjalan maksimal, sehingga dalam 1 hektar diperlukan 500-700 ekor itik.

Pakan itik juga bisa dihemat 50% karena disini itik makan serangga, wereng, keong dan sebagainya, karena itik mempunyai sifat lebih menyukai pakan yang hidup, dan populasi hama dapat ditekan tanpa menggunakan pestisida, sehingga teknologi ini sangat cocok dikembangkan untuk menuju pertanian organik.

Demikian penjelasan mengenai integrasi padi dan itik, semoga menambah wawasan dan bermanfaat untuk anda.

Untuk membeli benih, bibit, pupuk, pestisida dan perlengkapan pertanian lainnya silakan kunjungi SentraTani.com

Source : Channel Youtube AgroNews Indonesia