Budidaya Buah Melon

Usaha budidaya melon (Cucumis melo) awalnya terdapat di Cisarua-Bogor dan Kalianda-Lampung, namun saat ini sudah menyebar di wilayah di Indonesia. Produsen utama buah melon di Pulau Jawa adalah Jawa Timur (Malang, Ngawi, Pacitan, Madiun) dan Jawa Tengah (Sukoharjo, Surakarta, Karang Anyar, Klaten). Khusus di Provinsi Banten, budidaya melon baru dimulai pada tahun 2005, namun animo masyarakat cukup tinggi karena permintaanya cukup besar dan harganya relatif mahal, sehingga mendapatkan keuntungan yang besar bagi petani. Teknik penanaman melon yang dikembangkan saat ini tidak hanya terbatas dengan cara konvensional (ditanam ditanah atau pot) tetapi sudah menggunakan sistem hidroponik. Tanaman melon mempunyai varietas sangat banyak, dimana sebagian besar dapat tumbuh dan berkembang baik di Indonesia. Varietas yang disukai dan banyak ditanam petani adalah Sky Rocket, Honey Dew, Sun, Golden, Eagle, Emeral Jewel dan Action. Buah melon berbentuk bulat sampai lonjong, warna daging buah bermacam-macam (hijau kekuningkuningan, kuning agak putih dan jingga), bagian tengah buah terdapat mssa berlendir yang dipenuhi biji-biji kecil. Berat buah melon masak pada umumnya 0,5 – 2,5 kg, namun varietas hibrida Ten Me dan Action bisa mencapai 4 kg. Selain produksi, faktor kemanisan buah juga sangat menentukan kualitas buah melon. Upaya untuk dapat meningkatkan hasil tanaman melon dan kemanisan buahnya perlu dilakukan penambahan nutrisi yang tepat.

Budidaya Buah Melon

KARAKTERISTIK LOKASI

1. Pertumbuhan tanaman melon dipengaruhi oleh suhu, kelembaban, ketinggian tempat, penyinaran dan tekstur tanah. Tanaman melon membutuhkan suhu udara 25 – 30 0C, ketinggian tempat 0 – 2.000 m dpl, curah hujan 150 – 250 mm/bulan, kelembaban udara 70 – 80 % dan pH tanah 6 – 7.
2. Tanah yang memiliki pH 5 perlu penambahan kapur sebanyak 3 – 4 ton/ha sehingga pHnya menjadi 6 – Pengapuran dilakukan satu kali dengan jalan menebar secara merata pada bedengan.
3. Budidaya dilakukan dengan sistem bedengan (lebar 100 cm dan tinggi 35 cm), sedangkan panjang bedengan disesuaikan dengan petakan sawah (yang ideal 10 – 15 m). Jarak antar bedengan berkisar antara 40 – 50 cm.
4. Sistem drainase harus baik agar tanaman tidak tergenang dalam waktu yang lama, karena akan menyebabkan kematian. Selain itu, peluang terserang penyakit juga lebih besar.
5. Budidaya sebaiknya dilakukan pada musim kemarau dengan luas lahan minimal 1.000 m2, sedangkan varietas yang dipilih sebaiknya sesuai permintaan pasar dan memiliki harga jual tinggi.

KEUNTUNGAN INOVASI

Usaha budidaya melon memiliki prospek cukup besar dilihat dari potensi lahan dan permintaan pasar yang terus meningkat. Dengan lahan terbatas (1.000 m2) diperoleh produksi antara 2,10 – 2,25 ton dengan harga jual Rp. 4.500 – 5.000,-/kg. Disamping optimalisasi pemanfaatan lahan, budidaya melon di lahan sawah juga merupakan inovasi baru bagi petani atau pengguna lainnya di dalam pengembangan usaha dan sistem agribisnis sekaligus peningkatan pendapatan masyarakat tani.

PENERAPAN INOVASI

1. Benih yang akan ditanam terlebih dahulu disemai dalam polibag berdiameter 8 – 10 cm. Untuk lahan seluas 1.000 m2 dibutuhkan benih melon sebanyak 3 bungkus (1 bungkus + 550 biji).
2. Benih yang belum mendapat perlakukan pestisida (Seed treatment) perlu direndam dengan fungisida Benlate sebanyak 2 g/l selama 4 – 6 jam dan selanjuntnya ditiriskan. Kemudian dibungkus dengan kertas tisu dan diperam dalam wadah selama satu hari.
3. Benih yang telah diperam dan berkecambah dipindahkan ke polibag yang sudah diisi media tanam berupa campuran tanah dan pupuk kandang serta NPK dan Furadan. Setiap polibag diisi satu butir benih (dalam lubang sedalam 1 cm), kemudian ditutup tipis dengan arang sekam.
4. Bibit ditanam setelah berumur 12 – 15 HSS atau telah mempunyai 2 – 3 helai daun sempurna (daun sejati). Bibit harus diseleksi terlebih dahulu, dimana yang penumbuhannya baik dan kurang baik ditempatkan pada bedengan berbeda.
5. Pupuk dasar berupa pupuk kandang (10 – 15 ton/ha) dan kapur dolomit (3 ton/ha) ditabur merata diatas bedengan, lalu dicangkul halus dan diratakan. Beberapa hari kemudian dipasang mulsa plastik hitam perak (sebelumnya tanah disiram sampai lembab).
6. Pembuatan lubang tanam (diameter 25 – 30 cm dan kedalaman 10 – 12 cm) dilakukan 4 – 5 hari sebelum tanam, sedangkan pemasangan ajir/turus bambu setelah penanaman. Tanah lubang tanam dicampur pupuk organik dan kapur dolomit (2 sendok makan), lalu dikembalikan kedalam lubang. Selanjuntnya pada sisi lubang ditaburkan pupuk NPK mutiara sebanyak 25 g.
7. Pupuk susulan dilakukan setelah umur 7 HST, dimana 2 kg Urea dilarutkan dalam 100 liter air. Larutan Urea tersebut disiramkan sebanyak 300 – 400 ml/lubang (jangan sampai terkena daun). Pupuk susulan selanjuntnya dilakukan setiap 10 hari sampai tanaman berumur 60 hari (pematangan buah). Pupuk susulan tersebut dengan cara melarutkan NPK mutira sebanyak 2 kg dalam 100 liter air. Larutas tersebut disiramkan sebanyak 300 – 400 ml/lubang.

Selanjuntnya perawatan tanaman melon meliputi penyiraman, mengikat, memangkas, seleksi bunga dan buah serta pengendalian hama dan penyakit.
1. Hama dan penyakit utama adalah oteng-oteng, ulat daun dan layu, sedangkan yang lainnya adalah lalat buah, antarknosa, busuk buah, kudis dan aphids/trips. Pengendalian oteng-oteng dilakukan dengan Pegasus 500 EC atau Supracite 40 EC, ulat daun dengan Decis 2,5 EC atau Atobron 50 EC, sedangkan layu fusarium dengan pestisida Basamid atau Benlate.
2. Agar tidak rebah dan merambat, tanaman melon yang sudah mencapai tinggi 40 – 50 cm diikatkan ke ajir/turus menggunakan tali rafia. Pengikatan dilakukan setiap jaarak 40 – 50 cm hingga tanaman melon mencapai ketinggian 2,0 m.
3. Calon buah yang dipelihara adalah bunga betina yang terdapat pada cabang lateral ruas ke 8 – 10. Buah yang dipelihara dipili yang sehat (1 buah/tanaman), sedangkan varietas yang memiliki buah berukuran besar dapat 2 buah/tanaman.
4. Buah melon dapat dipanen pada tingkat kematangan yang cukup atau 65 – 70 HST. Buah matang yang dicirikan oleh : warna buah mulai berubah, retak pada tangkai buah, jaring pada permukaan kulit buah tampak lebih tegas, aroma buah mulai menusuk hidung, buah mudah dipetik dari tangkainya, daun dekat bunga sudah mengering dan buah akan tenggelam apabila dimasukkan ke dalam air.

Sumber :banten.litbang.pertanian.go.id